Keep it simple. Keep it honest. Keep it real || All photos taken from Smartphone ASUS Zenfone 5 ||
Sunday, October 18, 2015
11 Authors Who Hated the Movie Versions of Their BooksBy Stacy Conradt
Pertolongan Tuhan
Friday, October 16, 2015
The One and Only Ivan by Katherine Applegate
Synopsis:
Ivan is an easygoing gorilla. Living at the Exit 8 Big Top Mall and Video Arcade, he has grown accustomed to humans watching him through the glass walls of his domain. He rarely misses his life in the jungle. In fact, he hardly ever thinks about it at all.
=======================================
On April 9, 2014, it was announced thatDisney may adapt the book with Allison Shearmur to produce.[7]
Don't Look Back - Jennifer L. Armentrout
The Good Girl by Mary Kubica
Wednesday, October 7, 2015
Easy
The Martian
Baca buku ini dr bulan lalu ga maju2 halamannya... Sepertinya bukan genre gw deh... Ga napsu bacanya hehe... Berhubung filmnya dah kluar ya jd nonton filmnya aja deh hihi
The Girl With All The Gifts
Novel ini jg ga slesai krn sempet baca bbrp spoiler yg ternyata anak ini adalahhhhh *tittt* jd ilfil dan ga lanjutin lg...
Movie nya jg lg d garap...
Not too long after the book's release, M.R. Carey announced that the book would be made into its own movie, and the movie's title will differ from the book in that it will be under the moniker She Who Brings Gifts. On the 23rd of March, 2015, the casting was announced for the film: where Glenn Close will be playing Caroline Caldwell; Gemma Arterton is set to play Helen Justineau; and Paddy Considine shall play Sergeant Parks. Private Kieran Gallagher will be played by Fisayo Akinade. TV director Colm McCarthy is announced to be directing the movie. It will be McCarthy's second feature length film. The film's screenplay has been adapted by Mike Carey.
The filming is set to begin in May 2015. The film has been announced to release in 2016, though an exact release date has not been issued.[5]
Source: https://en.m.wikipedia.org/wiki/The_Girl_with_All_the_Gifts
The Girl On The Train
Ga slesai baca buku ini, berhubung genre nya Psychological Thriller dan bhs Ingg ku terbatas jd ga mudeng... Ribet critanya hehehe....
Movie nya lg di garap...
The film rights for the novel were acquired by DreamWorks Pictures on March 24, 2014 with Marc Platt set to produce.[9] On May 21, 2015 it was announced that the director of The Help, Tate Taylor, would be directing the film based on a script written by Erin Cressida Wilson.[12] On June 5, 2015, it was announced that British actress Emily Blunt was in talks to play the role of Rachel.[13] In July 2015, book author Paula Hawkins reported that the setting of the film would be moved from England, as it is in the book, to the U.S.[14]
source: https://en.m.wikipedia.org/wiki/The_Girl_on_the_Train_(novel)
Tuesday, September 29, 2015
To The Moon and Back by Jill Mansel
Done! Gw suka Chick-Lit karena ceritanya ringan, karakter2nya jg ok, ga bosenin krn dari sisi pandang yg berbeda ceritanya... Ya ceritanya sesuai dgn apa yg terjadi di kehidupan sehari2... Buku ini bagus menurut gw, siap2 nangis aja d awal2 hehe... Now I'm reading The Birds and The Bees by Milly Johnson... Happy reading!
Tuesday, September 22, 2015
Are You Reading The Wrong Books? What Science Is Saying About Fiction Readers
“The right patterns of ink on a page can create vivid mental imagery and instill powerful emotions.”
Your brain does amazing things while you’re reading, the breadth of which researchers are still defining. And by placing yourself into the world of a great novel, you are given the chance to experience something new that could be informative in your interactions with other people.
“We believe that one critical difference between lit and pop fiction is the extent to which the characters are complex, ambiguous, difficult to get to know, etc. (in other words, human) versus stereotyped, simple…”
Through their research, they found that readers of literary fiction receive more of the empathetic benefits of reading than those who read pop-fiction or non-fiction. The term “literary fiction” seems arbitrary, but Kidd and Castano explain that literary fiction merely denotes the level of complexity in stories and their characters (at least, that’s what it means in the context of their study).
Science Shows Something Surprising About People Who Still Read Fiction
Monday, September 21, 2015
Me Before You by JoJo Moyes
Berasa bgt emosi n feelingnya... Setelah baca ni buku, mikir smp 2 hari... emosi n feelingnya ga ilang2 trus saya menempatkan diri saya sebagai Louisa, sebagai Will, sebagai mamanya Will... Complicated banget ya... Pengen sih cerita tp males nulis blog nya hahaha...
Sunday, September 20, 2015
To All The Boys I've Loved Before by Jenny Han
Recommended bgt buat yg suka genre romance but not erotic yah.. ceritanya ringan ga belibet... emosinya dapet banget n ga bosenin... Just love the whole story...
Everything Everything by Nicola Yoon
Saya bukan tipe orang yg suka ngeblogger... Dan saya bukan tipe org yg suka kasih review buku-buku yang sdh saya baca... Tapi disini saya mau ksh comment soal buku-buku tersebut... Kenapa saya bilang comment bukan review krn kalimatnya cuma sedikit hehe...
Kali ini bukunya dr Nicola Yoon judulnya Everything Everything...
Yang bikin menarik di buku ini adalah banyak sketch-sketch dan gambar-gambar yg bikin pembaca ga bosen, chatting-chatting dan emailnya juga ditunjukin... cuma kl baca via Kobo Touch ga bgtu keliatan dengan jelas sketch dan gambar tsb. Ceritanya biasa siy, ttg cinta monyet... tp endingnya agak nyebelin yg ternyata ceweknya *tiitttt* ga boleh di sebut krn nnt jd spoiler... baca aja seru sih... emotionnya dpt.. plotnya cepet... first novelnya Nicola Yoon, lumayanlah... sy kasih 4 star di goodreads.com
Thursday, August 6, 2015
THANKS AGAIN AND AGAIN AND AGAIN PAPA J
Dari dulu saya mempunyai prinsip ketika orang jahat sama kita, berkat orang tersebut berpindah ke kita. Hal ini sedang saya alami akhir-akhir ini. Betapa saya stress di fitnah dan di omongin yang ga ga endingnya saya di promosiin. Orang tersebut diam-diam membicarakan dan menjelek-jelekan saya ke orang lain ataupun ke pemimpin, dan terlihat seperti mau menjatuhkan saya. Tapi saya tau bahwa TUHAN TAU dan TUHAN LIHAT semua apa yang dia lakukan. So, Tuhan memindahkan berkat yang seharusnya jadi miliknya kemudian dipindahkan Tuhan itu semua untuk saya. Ya, saya dipromosikan... Sesuatu yang tidak terlihat. Sebagaimana upaya manusia menjatuhkan orang lain tapi Tuhan memperhitungkan semuanya. Thats why gw selalu bilang TUHAN ITU SELALU BAIK DAN SELALU SANGAT BAIK... Terima Kasih Papa J :)
Tuesday, July 28, 2015
KAMU ANAK DURHAKA!!
Ketika seorang anak bekerja banting tulang utk kebutuhan hidupnya dan ibunya
Kamu anak durhaka!
Ketika seorang anak berusaha membahagiakan ibunya
Kamu anak durhaka!
Ketika seorang anak mementingkan kebutuhan primer drpd sekunder
Kamu anak durhaka!
Ketika seorang anak berusaha jauh dari narkoba, clubbing, free sex
Kamu anak durhaka!
Ketika seorang anak hanya mau di dengar dan di hargai
Kamu anak durhaka!
Ketika seorang anak ingin hidupnya dengan rasa bersyukur
Kamu anak durhaka!
Ketika seorang anak ingin menjadi dirinya sendiri
Kamu anak durhaka!
Ketika seorang anak ingin berpikir dengan caranya sendiri
Kamu anak durhaka!
Ketika seorang anak merindukan dibuatkan sarapan, bekal dan makan malam oleh ibunya
Kamu anak durhaka!
Ketika seorang anak mengkritik ibunya utk tujuan baik
Kamu anak durhaka!
Ketika seorang anak menginginkan nada lembut dr ibunya
Kamu anak durhaka!
Ketika seorang anak tidak mau byk tuntutan
Kamu anak durhaka!
Ketika seorang anak memilih pasangan hidupnya sendiri
Kamu anak durhaka!
PLAKKKK!!
Anak ini terima pukulan dan kata-kata
"KAMU ANAK DURHAKA!!"
Written by
Astrid Tandy
Monday, July 27, 2015
UNGKAPAN JUJUR SEORANG ANAK
Tahun 2005 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.
Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika: "Apa yang kamu inginkan ?" Dika hanya menggeleng.
"Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya. "Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.
Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.
Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.
Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160. Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).
Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.
Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.
Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...."
Dika pun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja."
Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.
Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ..."
Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya "Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu."
Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.
Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..."
Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya."
Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.
Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .."
Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa"
Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.
Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.
Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang ....."
Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja".
Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya diingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.
Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang .....",
Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku".
Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.
Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari ....."
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku".
Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.
Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari...."
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata, "tersenyum".
Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.
Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku. ..."
Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus"
Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki.
Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku memanggilku .."
Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".
Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata suami saya.
Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan "To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan".
Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat. Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan.
Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik.
~ Lesminingtyas
Tuesday, July 7, 2015
Munafik
Banyak orang mendeskripsikan munafik itu di lihat dr hal yang besar sedang kan yang kecil tidak. Orang lebih senang mengatakan orang lain munafik dibanding dirinya sendiri. Sebenarnya kalau kita mau bercermin, munafik itu bisa ada dalam diri kita.
Grateful
Mengucap syukur adalah hal yang mudah tapi jarang dilakukan oleh manusia. Tuhan mengajarkan apapun keadaan kita, baik ataupun buruk, kita harus selalu mengucap syukur.
Begitu sampai kantor biasanya sekitar jam 8 kurang saya sarapan di kantin, duduk bersama teman-teman saya dari Divisi dan Unit lain. Di sini saya merasa ada kebersamaan para pelayan Tuhan, kadang kita sharing soal kehidupan. Di sini saya merasa ada kekeluargaan. Kami saling berbagi dan membantu dan menguatkan.
Pekerjaan saya juga bukan pekerjaan mudah, saya disini sebagai Video Editor suatu Program TV rohani. Setiap saya mulai mengedit saya selalu berkata kepada Tuhan "Tuhan pilih yah gambar-gambar yang Tuhan mau" dan saya mulai mengedit. Begitu juga pelayanan lain saya adalah Animation Operator, ketika saya mau memasukan animasi2 atau bahkan ketika sayaketika mulai operate saya selalu berkata "Tuhan pilih yah animasi-animasi yang Tuhan suka" dan saya mulai operate.... Dan itu berasa, ketika saya mau mengeluarkan animasi yg hati saya agak ragu-ragu pas saya keluarin di LED pasti pemimpin meminta supaya animasi tsb jangan dikeluarin lagi hehehe harus belajar lebih peka lagi nih saya.
Banyak hal kecil maupun besar saya selalu bergantung kepada Tuhan, saya selalu bersyukur kepada Tuhan. Sebenernya saya bisa complain kl naik angkot itu panas, sumpek n bau... Tapi saya memilih bersyukur karena pasti masih ada segelintir orang yang ga bisa naik angkot. Mungkin saya juga bisa complain pekerjaan saya, tapi saya yakin ada beberapa orang yang menganggur alias ga punya pekerjaan.
Saya percaya pada saat kita mengucap syukur ada paradigma pemikiran bahkan di dunia Roh ada sesuatu yang dibukakan oleh Tuhan. Saya yakin masa depan saya pasti lebih baik dari sekarang karena saya punya Bapa yang luar biasa, dengan kita "tidak complain dan selalu mengucap syukur", Bapa kita mempersiapkan sesuatu yang luar biasa buat kita. Toh kita hidup harus saling memberikan kesaksian dan kekuatan. Tuhan ga akan memilih orang-orang untuk bersaksi kalau kita tidak mengalami proses-proses dari Tuhan dan keluar sebagai pemenang.
Apapun keadaan kita, kita harus terus mengucap syukur. Jadilah garam dan terang, Jadilah saksi Kristus. Jadilah berkat bukan bati sandungan. Mengucap syukur dari hal kecil saja itu bisa menjauhkan kita dari kesombongan kok.
Saturday, July 4, 2015
Anti-Social
Friday, July 3, 2015
Thank You
Selamat menuai apa yang sudah kalian tabur yaaa... GBU...
Hati-hati!
Thursday, June 18, 2015
Wednesday, June 17, 2015
Mimpi
Mimpi yang aneh... Seakan-akan saya berada di Universitas di luar negeri. Saya mengikuti dosen ini, bule dan wanita yang selalu keliling kampus untuk membantu setiap mahasiswa dan mahasiswi yang membutuhkan bantuannya dalam hal belajar dan mengajar. Saya disini hanya sebagai pengamat... Entah pengamat atau entah belajar juga... atau trainning....

























