Tuesday, July 28, 2015

KAMU ANAK DURHAKA!!

Ketika seorang anak bekerja banting tulang utk kebutuhan hidupnya dan ibunya

Kamu anak durhaka!

Ketika seorang anak berusaha membahagiakan ibunya

Kamu anak durhaka!

Ketika seorang anak mementingkan kebutuhan primer drpd sekunder

Kamu anak durhaka!

Ketika seorang anak berusaha jauh dari narkoba, clubbing, free sex

Kamu anak durhaka!

Ketika seorang anak hanya mau di dengar dan di hargai

Kamu anak durhaka!

Ketika seorang anak ingin hidupnya dengan rasa bersyukur

Kamu anak durhaka!

Ketika seorang anak ingin menjadi dirinya sendiri

Kamu anak durhaka!

Ketika seorang anak ingin berpikir dengan caranya sendiri

Kamu anak durhaka!

Ketika seorang anak merindukan dibuatkan sarapan, bekal dan makan malam oleh ibunya

Kamu anak durhaka!

Ketika seorang anak mengkritik ibunya utk tujuan baik

Kamu anak durhaka!

Ketika seorang anak menginginkan nada lembut dr ibunya

Kamu anak durhaka!

Ketika seorang anak tidak mau byk tuntutan

Kamu anak durhaka!

Ketika seorang anak memilih pasangan hidupnya sendiri

Kamu anak durhaka!

PLAKKKK!!

Anak ini terima pukulan dan kata-kata

"KAMU ANAK DURHAKA!!"

Written by

Astrid Tandy

Monday, July 27, 2015

UNGKAPAN JUJUR SEORANG ANAK


Tahun 2005 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.
Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot.

Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika: "Apa yang kamu inginkan ?" Dika hanya menggeleng.

"Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya. "Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.

Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.
Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160. Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).

Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...."

Dika pun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja."

Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ..."

Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya "Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu."

Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..."

Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya."

Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .."

Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa"

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.
Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang ....."

Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja".

Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya diingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang .....",

Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku".

Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari ....."

Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku".

Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari...."

Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata, "tersenyum".

Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku. ..."

Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus"

Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku memanggilku .."

Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".

Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan "To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan".

Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat. Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan.

Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik.

~ Lesminingtyas

Tuesday, July 7, 2015

Munafik

Seberapa jauh kita mengetahui yang namanya munafik? Apa sih sebenarnya munafik itu?
Banyak orang mendeskripsikan munafik itu di lihat dr hal yang besar sedang kan yang kecil tidak. Orang lebih senang mengatakan orang lain munafik dibanding dirinya sendiri. Sebenarnya kalau kita mau bercermin,  munafik itu bisa ada dalam diri kita.

Orang senang mengatakan "ahh dia mah munafik, kalau sedang berdoa nangis-nangis bahkan sampai berlutut segala... kalau kalian tahu dia itu suka mukulin istrinya" atau "ah dia munafik sok sibuk padahal kalau pemimpin ga ada dia main game" atau "ahh dia munafik sok nongkrong di cafe mahal demi status di sosmed, padahal dia ngutang sana sini tau deh tuh kartu kreditnya beres ga tuh".
Kita sering sekali mendengar teman, diri kita atau orang lain bicara seperti itu. Padahal kalau kita mau bercermin kita juga orang yang munafik. Padahal orang yang suka membicarakan keluarga, teman, sahabat bahkan pemimpin adalah hal yang munafik. Saya paling heran melihat seorang istri bisa membicarakan suami dihadapan teman-temannya, itu kan sama aja buka aib sendiri. Saya heran seorang sahabat membicarakan sahabatnya sendiri di hadapan teman-teman sendiri... Itu hal yang aneh buat saya. Oke lah kalau yg diajak bicara ada teman-teman yang tau sama tau tp kalau yg tidak tau sama sekali kan aneh... Lalu anehnya setelah membicarakan sahabatnya ini masih bisa bersahat akrab ketawa-ketawa seolah ga ada apa-apa. Ini hal yang ga bisa masuk diakal bagi saya. Saya kalau berteman ga bisa abu-abu, kalau memang ga cocok pasti saya tinggalin... Saya ga bisa merasa tidak cocok tapi tetap berteman trus ngomongin di belakang... Wah itu hal yg tidak bisa saya lakukan, lebih baik saya pergi...

Hal lain adalah ketika kita bersama teman-teman kita membicarakan pemimpin, tapi ketika berada di belakang teman-temannya dia malah cari aman dan membicarakan teman-temannya di depan pemimpin tersebut.

Inilah sebagian contoh yang kecil saja yang terkadang kita tidak notice. Kita lebih senang membicarakan orang lain tanpa bercermin dahulu. Setiap manusia memiliki sifat yang membicarakan orang lain, itu semua orang spt itu bahkan pendeta maupun presiden pun seperti itu. Tapi kadarnya berbeda, cara membicarakannya juga berbeda. Ada yg membicarakan orang lain tapi akhirnya minta suatu solusi, jadi yang dibicarakan ini tidak hanya asal ngomong tapi di minta pendapat dan solusi agar orang yg dibicarakan ini bisa notice dan berubah dan lebih baik pastinya. Ada juga orang yang benar-benar suka membicarakan orang lain sampai mulutnya monyong bahkan sampai uratnya kluar... nah hati-hati ini kalau sampai ada orang-orang seperti ini. Bahkan suka di tambah bumbu-bumbu yang sebenarnya tidak ada atau yang seharusnya baik malah hal baik ini ditiadakan.
Jadi sebelum kita membicarakan orang lain lebih baik kita bercermin dahulu. Jangan kita merasa paling baik, paling benar dan paling kudus sehingga arti kasihilah sesamamu manusia itu hilang dari kepribadian kita.

Matius 7:3 (TB)  Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

Written by

Astrid Tandy

My Life

I love reading books and playing video games and coffee... That's my life... 


Grateful


Mengucap syukur adalah hal yang mudah tapi jarang dilakukan oleh manusia. Tuhan mengajarkan apapun keadaan kita, baik ataupun buruk,  kita harus selalu mengucap syukur.
Saya setiap hari berangkat ke kantor selalu pagi hari, jarang sekali berangkat siang. Entah itu di kantor yang lama maupun yang baru. Alasan saya yang tidak utama adalah ga mau kena macet dan kl berangkat siang panas. Alasan utama saya adalah karena saya mengungkapkan rasa syukur. Saya melayani Tuhan sebagai fulltimer di gereja. Ketika bangun pagi kemudian kita berpikiran positif dan selalu mengandalkan Tuhan segala halnya berjalan baik. Bangun pagi kemudian saya beberes rumah, saya saat teduh selalu jam 3 pagi. Selesai doa saya tidur lagi, kemudian bangun pagi beberes rumah dan persiapan ke kantor. Saya berangkat pagi ke kantor krn saya diberikan berkat baru setiap pagi dan saya mempunyai pekerjaan hingga saat ini, melayani Tuhan pulak pekerjaan saya itu. Hal ini merupakan hal yang privilege banget buat saya. Di angkot saya menikmati banyak hal... saya bisa mendengarkan musik rohani, baca buku novel maupun main game, bahkan saya bisa bercakap-cakap dengan Tuhan di dalam hati. Di angkot saya juga bisa melihat hiruk pikuk kehidupan manusia, saya melihat masih banyak orang tua bisa naik angkot meskipun dia bawa barang-barang yang berat bahkan saya melihat orang tua yang jalannya sudah susah trus pake tongkat,  naik angkot pulak. Kalau naik angkot paling seneng ketika angkot itu datangnya cepat, dapet tempat duduk dan supirnya ramah hehe...

Begitu sampai kantor biasanya sekitar jam 8 kurang saya sarapan di kantin, duduk bersama teman-teman saya dari Divisi dan Unit lain. Di sini saya merasa ada kebersamaan para pelayan Tuhan, kadang kita sharing soal kehidupan. Di sini saya merasa ada kekeluargaan. Kami saling berbagi dan membantu dan menguatkan. 

Pekerjaan saya juga bukan pekerjaan mudah, saya disini sebagai Video Editor suatu Program TV rohani. Setiap saya mulai mengedit saya selalu berkata kepada Tuhan "Tuhan pilih yah gambar-gambar yang Tuhan mau" dan saya mulai mengedit. Begitu juga pelayanan lain saya adalah Animation Operator, ketika saya mau memasukan animasi2 atau bahkan ketika sayaketika mulai operate saya selalu berkata "Tuhan pilih yah animasi-animasi yang Tuhan suka" dan saya mulai operate.... Dan itu berasa, ketika saya mau mengeluarkan animasi yg hati saya agak ragu-ragu pas saya keluarin di LED pasti pemimpin meminta supaya animasi tsb jangan dikeluarin lagi hehehe harus belajar lebih peka lagi nih saya.

Banyak hal kecil maupun besar saya selalu bergantung kepada Tuhan, saya selalu bersyukur kepada Tuhan. Sebenernya saya bisa complain kl naik angkot itu panas, sumpek n bau... Tapi saya memilih bersyukur karena pasti masih ada segelintir orang yang ga bisa naik angkot. Mungkin saya juga bisa complain pekerjaan saya, tapi saya yakin ada beberapa orang yang menganggur alias ga punya pekerjaan. 

Saya percaya pada saat kita mengucap syukur ada paradigma pemikiran bahkan di dunia Roh ada sesuatu yang dibukakan oleh Tuhan. Saya yakin masa depan saya pasti lebih baik dari sekarang karena saya punya Bapa yang luar biasa, dengan kita "tidak complain dan selalu mengucap syukur", Bapa kita mempersiapkan sesuatu yang luar biasa buat kita. Toh kita hidup harus saling memberikan kesaksian dan kekuatan. Tuhan ga akan memilih orang-orang untuk bersaksi kalau kita tidak mengalami proses-proses dari Tuhan dan keluar sebagai pemenang. 

Apapun keadaan kita,  kita harus terus mengucap syukur. Jadilah garam dan terang, Jadilah saksi Kristus. Jadilah berkat bukan bati sandungan. Mengucap syukur dari hal kecil saja itu bisa menjauhkan kita dari kesombongan kok.
Written by:
Astrid Tandy

Saturday, July 4, 2015

Anti-Social

Saya bukan tipe orang yang suka hura-hura, saya bukan tipe orang yang suka ngobrol atau bersosialisasi, saya bukan tipe orang yang suka curhat, saya bukan tipe orang yang suka basa-basi, saya bukan drama queen yg diluar senyum2 manis di dalam hati busuk, saya bukan tipe orang yang sering hang out... 

Saya tipe orang yang suka di rumah... Nonton tv series kesukaan, masak, baca buku, edit video, main gadget, dll...

Orang berpikir saya tidak punya teman, mereka salah... Saya punya teman meskipun tidak sering ketemu... Komunikasi saya dgn teman2 saya cukup baik... Dari teman SD, SMP, SMA dan kuliah tp karena berhubung yang td saya bilang saya ga suka ngobrol ya makanya jarang ketemu hihi...
Tapi saya sangat enjoy dengan kehidupan saya... Bless you

Friday, July 3, 2015

Thank You

Terima kasih buat orang-orang yg berada di dalam hidup saya... Dan yang pernah berada di dalam hidup saya...

Buat orang-orang yang baik dan selalu mensupport hidup saya, baik secara nasehat maupun materi. Buat teman2 lama saya yg tau saya bingitsss, secara karakter khususnya... Ga nyangka kalian selalu membela saya ketika saya di fitnah... Nasehat rohani maupun sekuler bijak kalian menguatkan saya. Yang membuat saya mengangkat dagu saya dan berpikir "whatever and walk away". Dan selalu mengingatkan saya untuk selalu di track nya Tuhan.

Buat orang-orang yang selalu memfitnah saya, ngomongin keburukan saya, mencemooh saya... Saya ucapin sungguh sangat terima kasih dengan apa yang sudah kalian lakukan dalam hidup saya. Itu semua membuat saya banyak belajar. Membuat saya lebih bijaksana, menjaga sikap, menjadi kuat. Saya sama sekali ga takut dengan apa yg sedang kalian lakukan dan usahakan krn saya tahu, saya punya Tuhan yang luar biasa yang selalu memberkati, mempromosikan, membela, melindungi saya. Karena pembalasan adalah hak Tuhan, dan Tuhan hanya bilang ke saya "tenanglah dan diamlah".

Selamat menuai apa yang sudah kalian tabur yaaa... GBU...

Hati-hati!


Jangan pernah mempermainkan Tuhan apalagi di rumah Tuhan itu sendiri. Jangan sampai kita merasa bisa memfitnah, bisa berbohong, bisa mencemooh orang lain tp ingat Tuhan tahu dan lihat semua... Mungkin kita sekarang bisa bersenang-senang mencemooh orang lain tapi bersiap-siaplah tuaian yang kita terima nanti. Apa yang kita tabur, itu yang kita tuai nanti.
Jangan sampai orang lain sudah menikmati tuaian yang baik dari Tuhan tp kita baru merasakan proses padang gurun dari Tuhan...
Stop mempermainkan Tuhan di rumah Tuhan, jangan sampai kita di bakar abis oleh Tuhan trus malah menyalahkan orang lain bahkan Tuhan itu sendiri. Orang lagi sibuk mikirin jiwa2 kok kita malah sibuk mikirin cara menjatuhkan orang lain...

Written by
Astrid Tandy