Seberapa jauh kita mengetahui yang namanya munafik? Apa sih sebenarnya munafik itu?
Banyak orang mendeskripsikan munafik itu di lihat dr hal yang besar sedang kan yang kecil tidak. Orang lebih senang mengatakan orang lain munafik dibanding dirinya sendiri. Sebenarnya kalau kita mau bercermin, munafik itu bisa ada dalam diri kita.
Banyak orang mendeskripsikan munafik itu di lihat dr hal yang besar sedang kan yang kecil tidak. Orang lebih senang mengatakan orang lain munafik dibanding dirinya sendiri. Sebenarnya kalau kita mau bercermin, munafik itu bisa ada dalam diri kita.
Orang senang mengatakan "ahh dia mah munafik, kalau sedang berdoa nangis-nangis bahkan sampai berlutut segala... kalau kalian tahu dia itu suka mukulin istrinya" atau "ah dia munafik sok sibuk padahal kalau pemimpin ga ada dia main game" atau "ahh dia munafik sok nongkrong di cafe mahal demi status di sosmed, padahal dia ngutang sana sini tau deh tuh kartu kreditnya beres ga tuh".
Kita sering sekali mendengar teman, diri kita atau orang lain bicara seperti itu. Padahal kalau kita mau bercermin kita juga orang yang munafik. Padahal orang yang suka membicarakan keluarga, teman, sahabat bahkan pemimpin adalah hal yang munafik. Saya paling heran melihat seorang istri bisa membicarakan suami dihadapan teman-temannya, itu kan sama aja buka aib sendiri. Saya heran seorang sahabat membicarakan sahabatnya sendiri di hadapan teman-teman sendiri... Itu hal yang aneh buat saya. Oke lah kalau yg diajak bicara ada teman-teman yang tau sama tau tp kalau yg tidak tau sama sekali kan aneh... Lalu anehnya setelah membicarakan sahabatnya ini masih bisa bersahat akrab ketawa-ketawa seolah ga ada apa-apa. Ini hal yang ga bisa masuk diakal bagi saya. Saya kalau berteman ga bisa abu-abu, kalau memang ga cocok pasti saya tinggalin... Saya ga bisa merasa tidak cocok tapi tetap berteman trus ngomongin di belakang... Wah itu hal yg tidak bisa saya lakukan, lebih baik saya pergi...
Hal lain adalah ketika kita bersama teman-teman kita membicarakan pemimpin, tapi ketika berada di belakang teman-temannya dia malah cari aman dan membicarakan teman-temannya di depan pemimpin tersebut.
Inilah sebagian contoh yang kecil saja yang terkadang kita tidak notice. Kita lebih senang membicarakan orang lain tanpa bercermin dahulu. Setiap manusia memiliki sifat yang membicarakan orang lain, itu semua orang spt itu bahkan pendeta maupun presiden pun seperti itu. Tapi kadarnya berbeda, cara membicarakannya juga berbeda. Ada yg membicarakan orang lain tapi akhirnya minta suatu solusi, jadi yang dibicarakan ini tidak hanya asal ngomong tapi di minta pendapat dan solusi agar orang yg dibicarakan ini bisa notice dan berubah dan lebih baik pastinya. Ada juga orang yang benar-benar suka membicarakan orang lain sampai mulutnya monyong bahkan sampai uratnya kluar... nah hati-hati ini kalau sampai ada orang-orang seperti ini. Bahkan suka di tambah bumbu-bumbu yang sebenarnya tidak ada atau yang seharusnya baik malah hal baik ini ditiadakan.
Jadi sebelum kita membicarakan orang lain lebih baik kita bercermin dahulu. Jangan kita merasa paling baik, paling benar dan paling kudus sehingga arti kasihilah sesamamu manusia itu hilang dari kepribadian kita.
Matius 7:3 (TB) Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
Written by
Astrid Tandy
No comments:
Post a Comment